Jumper

Apa yang terjadi ketika seseorang bisa berada di tempat mana saja yang diinginkannya. Melompat dan berpindah dari satu belahan dunia ke belahan dunia lainnya hanya dalam sekejap mata. Sarapan di Paris, berselancar di Laut Fiji, lantas berjemur dan berleha-leha di atas patung Sphinx, Mesir.

Malamnya, mencari teman kencan di London. Hidup yang ”enak” itu adalah kompensasi atas masa lalu David Rice (Hayden Christiansen) yang menyakitkan. Ditinggal pergi sang ibu pada usia lima tahun dan mengalami masa remaja yang penuh olok-olok; situasi yang mendorong siapa pun untuk melompat dari keberadaannya sehari-hari menuju situasi yang sama sekali baru.

Dan ketika lompatan yang dimaksud bukan sekadar igauan filosofis, David memulai hidup baru sebagai makhluk tamasya. Anomali genetis memberinya kemampuan untuk melompat dan berpindah cepat dari satu tempat ke tempat lainnya (teleportasi). Hidupnya jadi terasa mudah, menyenangkan, dan penuh warna.

Butuh duit, tinggal ambil; dengan memindahkan tubuhnya ke brankas sebuah bank. Sisanya adalah kemalasan yang mengancam tulang mudanya dengan osteoporosis. Terlalu sedikit berjalan, sedikit-sedikit melompat.

Untuk menjangkau remote control TV berjarak setengah meter dari sampingnya, David mengabaikan perosedur berpindah secara alamiah dan memilih melompat. Tapi kesenangan macam itu tidak selamanya berlangsung mudah. Di luar, ada kaum Paladin dengan tokoh sentral bernama Roland (Samuel L. Jackson) yang siap menjerat, menangkap, dan membinasakan para pelompat.

Ya, David tidak sendiri. Dunia rupanya juga dihuni para jumper yang hidupnya teralienasi. Seorang pelompat yang cukup makan asam garam perseteruan dengan kaum Paladin adalah Griffin (Jamie Bell). Pengalaman pun membuat Griffin lebih mengerti cara menikmati berjalan kaki dalam kasus-kasus tertentu.

”Bikin saya merasa sebagai manusia normal,” kata Griffin. Sutradara Doug Liman kembali menemukan alasan memamerkan keindahan kota-kota di dunia dalam filmya. Setelah film The Bourne Identity dan Mr. And Mrs. Smith, kali ini, lewat Jumper, Liman membawa penonton bertamasya ke Roma, Toronto, Mesir, Paris, Meksiko, dan New York bersama pelompat yang gundah dan kasmaran.

Kisah Jumper diadaptasi dari duo novel fiksi ilmiah karya Steven Gauld berjudul Jumper dan Reflex, yang terbit awal 1990-an. Keindahan lokasi pada akhirnya menjadi hiburan paling menonjol dalam Jumper di tengah unsur cerita yang klise dan dangkal, serta teknik penyuntingan dan sinematografi yang tidak bisa dibilang baru.

Membayangkan bagaimana prinsip kerja penyuntingan gambar dalam film ini membuat usaha untuk mengeksplorasi efek komputer grafis yang berhubungan dengan lompatan jadi terasa tidak istimewa. Sementara itu, ide untuk menampilkan sosok superhero muda dengan masa kanak-kanak yang menyakitkan terpapar terlalu datar, sehingga tidak cukup memancing keberpihakan emosi penonton.

Jika bisa dihitung sebagai hal menarik yang disampaikan Liman dalam film ini, adalah kehendaknya untuk tidak berpetuah dan menggurui dengan meminjam sosok jagoan super. Lainnya, Liman secara tidak berlebihan menelanjangi obsesi, pernyataan, dan pikiran tentang apa yang akan dilakukan seseorang ketika dikarunai suatu kemampuan yang mustahil seperti teleportasi genetis itu.