Mr.Brooks

Kali ini dia bukan menjadi seorang pembela kaum Indian seperti dalam film Dance With Wolves (sutradara terbaik dan sebuah mahakarya/masterpiece), atau bukan menjadi seorang kurir berkuda dengan kantong yang berisi surat-surat seperti dalam film The Postman , atau dia bukan menjadi seorang koboi jago tembak dalam film Silverado , atau juga kali ini dia bukan menjadi seorang Marshall yang bengis dalam film Wyatt Earp, atau bukan menjadi seorang Jaksa Wilayah cerdas dalam upaya pembuktian bahwa bukanlah Lee Harvey Oswald(Gary Oldman) yang membunuh Presiden John F. Kennedy dalam film JFK (1991), bahkan bukan menjadi seorang pahlawan manusia ikan dalam filmnya yang amburadul, gagal, bahkan pernah dikatakan sebagai film terjelek yang meruntuhkan kariernya dia saat itu yaitu film WaterWorld , bahkan karakternya tidak juga seperti Frank Farmer a.k.a. pengawal pribadi seorang selebriti, diman Frank jatuh cinta dengan si penyanyi pada film The Bodyguard (tahun2nya liat di Net aja oke), dan lain-lain.

Kevin Costner kali ini membintangi sebuah film dengan karakteristik peran lain dari yang lain daripada film-film terdahulunya. Mr Brooks adalah film di mana keandalan akting Costner pantas didiskusikan setelah JFK (1991). MR. Brooks adalah nama peran Costner dalam film ini yang menceritakan tentang seorang yang sukses dalam karir, sosok suami yang baik, dan seorang ayah yang hangat dan sangat melindungi anaknya, namun dibalik itu semua Brooks adalah seorang laki-laki paruh baya yang mempunyai kepribadian ganda yang mana salah satu kepribadiannyaa yaitu membunuh untuk kesenangan belaka.

Tuan Brooks ini membunuh korbannya secara acak, dan saat melakukan pembunuhan, ternyata tanpa disadari oleh tuan Brooks, aksi pembunuhan tersebut di dokumentasikan berupa beberapa foto oleh seorang fotografer muda yang kemudian mencoba untuk memeras Brooks ini.

Anehnya adalah, si fotografer tidak meminta uang tebusan kepada tuan Brooks, melainkan ingin dianggap sebagai partner untuk aksi pembunuhan selanjutnya, dengan kata lain fotografer ini juga ingin melakukan pembunuhan bersama tuan Brooks, atau dia akan mengancam akan menyerahakan foto-foto bukti pembunuhan Brooks kepada pihak yang berwajib.

Pada awalnya Film Mr.Brooks ini sangat membosankan karena alur cerita yang masih bergaya ABG alias Angkatan Babe Gue a.k.a. monoton atau seperti film-film pemerasan lainnya, namun sedikit demi sedikit penonton dibawa kedalam kerumitan sebuah cerita yang membuat tanda tanya besar dan tidak membosankan, yaitu dengan hadirnya si seksi Jeanny (Danielle Panabaker) anak tuan Brooks yang menambah permasalahan pelik kepada Brooks.

Kemunculan Jane disusul kedatangan dua polisi untuk menginterogasi Jane terkait pembunuhan di tempatnya kuliah. Jane lolos dari tuduhan. Tapi, Brooks sadar bahwa Jane mewarisi sifat-sifat pembunuh yg dimiliki ayahnya. Sehingga Brook melakukan pembunuhan lagi di lain kota untuk melindungi anaknya.

Dan juga kehadiran si tua cantik detektif Atwood (Demi Moore) dalam film ini juga sangat membantu dalam keruwetan alur cerita, karena keterlibatan Atwood dalam film ini sangat berkaitan dengan aksi tuan Brooks. Dan film ini juga menghadirkan tokoh Marshall (William Hurt) seorang pemenang OSCAR yang merupakan gambaran sisi gelap atau penggambaran sifat jahat tuan Brooks, dimana selalu menjadi rekan Brook dalam hasutan untuk melakukan pembunuhan.

Multistories

Jarang ditemukan dalam satu film ada berbagai konflik yang terjadi, yang mana pada akhirnya konflik2 tsb menjelaskan inti cerita dari sebuah film (dengan kata lain mempunyai hubungan antara satu konflik dengan konflik yang lain), seperti contoh Brooks sebagai seorang pembunuh, anaknya yg sebagai pembunuh juga, dan Atwood sebagai detektif yang hidupnya sedang mengalami konflik perceraian yang membuat dirinya diperas oleh suaminya, dan juga seorang napi yang meloloskan diri dari penjara yang ingin melampiaskan dendamnya gara2 Detektif Atwood yang menjebloskannya ke penjara. Ini adalah contoh bahwa dalam satu film terdapat banyak konflik yang dibawa serta untuk dijadikan satu film.

Dan alhasil, film ini layak untuk tonton, dan alur cerita yang tidak terduga. Dan bahkan hampir seluruh film (hampir lhoo, tp tidak semua laaa) yang di dalamnya banyak terdapat konflik yang berbeda, maka kemungkinan film tersebut dapat dikatakan bagus dan tidak membosankan seperti film FRACTURE yang monoton yang hanya memiliki satu konflik yaitu hanya tentang pembuktian kebersalahan atas pembunuhan (satu permasalahan dari awal ampe akhir).

Inilah contoh film yang diperankan oleh aktor ternama dan berkelas Anthony Hopkins dan Ryan Gosling, namun alur cerita film yang biasa-biasa saja. Dan kita tidak dapat mengatakan film itu bagus kalau hanya melihat dari segi aktor atau aktris-nya saja. Tetap aja, walau aktor/aktris keren, tapi klo film nya tidak memiliki alur cerita yang keren alias ngaco, maka sama juga bo’ong bukan ? CrOooT..!!!. Bahkan seorang aktor besar Hollywood sepanjang masa pun, jaman babe saya dahulu yaitu Marlon Brando, pernah mengatakan “the great movie” harus “banyak” ditunjang oleh hal2 lainnya. Bahkan Brando sendiri pun pernah mengalami kemerosotan karier gara2 film yg diperankannya.

Film Mr.Brooks ini sangat berbeda dengan Hostel dan Hostel II walaupun sama2 menyajikan ttg pembunuhan yang sadis. Karena film Hostel yang ancur banget tsb, hanya mengandalkan kesadisan belaka tanpa memiliki alur cerita yang bagus a.k.a. ngaco abis. Sedangkan Mr.Brooks memiliki semua keunggulan dari berbagai segi film, yaitu karakter2, konflik di dalamnya, alur ceritanya, aktor dan aktrisnya dan lain sebagainya. Namun penonton tidak diberi tahu latar belakang atau asal-muasal atau penyebab mengapa tuan Brooks menjadi seorang pe-nikmat membunuh seperti contoh dalam film Hannibal Rising.

Btw, tulisan panjang2 gini ada yang baca gak yah ???